Michael Essien

Kempes, Milla, Basualdo, Michael Essien, yang pergi dan tak kembali

Bola Headline News

Kolom Yon Moeis
Eden Hazard Dikhawatirkan Cedera, Belgia Dalam Bahaya
JAKARTA – Belgia berhasil meraih kemenangan 4-1 dalam laga uji coba melawan Kosta Rika pada Selasa (12/6/2018) dini hari WIB di Stadion Heysel, Brussel, jelang Piala
Timnas Uruguay Lakoni Laga Kedua Lawan Arab Saudi, Harus Menang
JAKARTA – Uruguay akan melakoni laga kedua pada babak penyisihaan grup A Piala Dunia Rusia 2018 melawan Timnas Arab Saudi di Rostov Arena, Rabu (20/6/2018).
Aturan Video Assistant Referee, 14 kamera replay untuk 20 detik
Kolom Mbah Coco
Sadio Mane striker asal Senegal dijatuhkan Davinson Sanchez, libero Kolombia, di kotak penalti Kolombia, menit 19, dalam partai terakhir
Kempes, Milla, Basualdo, Michael Essien, yang pergi dan tak kembali

Kolom Yon Moeis
NIRWAN Dermawan Bakrie bergegas meminta saya menunggu. “Sebentar, gue ada tamu, Mario Kempes,” kata Nirwan sambil mengarahkan telunjuknya
Lionel Messi segera pensiun dari timnas Argentina
Salamolahraga.co.id- Kisah perjalanan Lionel Messi di Piala Dunia 2018 di Rusia akhirnya hanya sampai di babak  16 besar. La Pulga harus mengubur mimpinya untuk bisa menyamai

NIRWAN Dermawan Bakrie bergegas meminta saya menunggu. “Sebentar, gue ada tamu, Mario Kempes,” kata Nirwan sambil mengarahkan telunjuknya ke ruang tamu utama rumahnya yang asri di kawasan elite Jakarta Selatan. Malam itu, di penghujung 1996, dari ruang tamu luar, saya melihat NDB – demikian Nirwan biasa disebut, sedang asyik ngobrol dengan Mario Kempes. Saya juga melihat (alm) Andrie Amin, manajer Pelita Jaya, yang duduk bersebelahan dengan Nirwan.

Michael Essien

“El Toro” – julukan Kempes – saya sebut pertama kali ketika kami, saya dan Erwiyantoro, Llano Mahardika, Akmal Marhalie, ngobrol bersama Michael Essien di JW Marriott, dua hari jelang lebaran, sebelum dia bertolak ke Inggris. Kami membicarakan perhelatan sepak bola akbar di Indonesia. “Saya akan kembali ke Indonesia bersama teman-teman saya, satu di antara mereka adalah Cristiano Ronaldo,” kata Essien.

Mario Alberto Kempes – dia lahir di Bell Ville, Argentina, 15 Juli 1954 – adalah legenda sepak bola Argentina yang ikut meraih gelar juara dunia pada 1978 setelah melibas Belanda 3-1. Waktu itu Argentina menjadi tuan rumah.

Kempes bermain di banyak klub, sebut saja, Rosario Central, Valencia, River Plate, Vienna FC. Di Pelita Jaya, “El Matador”, julukan lain Kempes, ia tak hanya bermain, tapi sekaligus menjadi pelatih. Kempes tak lama berada di Indonesia. Tapi, bagaimana pun, dia telah ikut mewarnai sepak bola di negeri ini.  Sebelum Kempes, NDB sudah mendatangkan Roger Milla.

Roger Milla

Albert Roger Miller, begitu nama Milla ketika dilahirkan di Yaounde, 25 Mei 1952, mengawali kedatangannya ke Indonesia tidak hanya mempertontonkan goyangan seperti yang dia perlihatkan di Piala Dunia Italia 1990 begitu tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta pada awal 1995. Namun, dia juga memperlihatkan cintanya untuk sepak bola kita.

Meski namanya saat itu sudah memudar, Milla harus diakui telah ikut meramaikan sepak bola kita. Dia tak hanya memperkuat klub milik Nirwan D. Bakrie itu, tapi juga Putra Samarinda sebelum namanya benar-benar tenggelam. Milla – lelaki berhati Singa, itu, terakhir kali muncul di media ketika bersama Johan Cruyff menghadiri undian Piala Dunia 2006 di Jerman.

Nama Milla muncul ketika “menggoyang” Piala Dunia 1990 di Italia. Ia mengantar Kamerun menjadi tim Afrika pertama yang menembus delapan besar, Milla menorehkan empat gol, dua di antaranya ke gawang Rumania di pertandingan kedua, sementara dua gol lainnya dicetaknya pada babak 16 besar menghadapi Kolombia. Dan dia melakukannya di usia 38 tahun.

Pada 1994, Milla tampil sebagai pemain tertua, 42 tahun, yang pernah berlaga di Piala Dunia sebelum dipatahkan Faryd Mondragón pada Piala Dunia 2014 saat memperkuat Kolombia menghadapi Jepang di usia 43 tahun, 3 hari.

Maboang Kessack

Setelah Milla pergi, Pelita Jaya kembali mendatangkan pemain dari Benua Hitam; Emmanuel Maboang Kessack. Ia rekan Milla di Piala Dunia 1990 dan 1994. Kessack lahir di Ndiki Mbam, Kamerun, 27 Nopember 1968. Sebelum berlabuh di Pelita yang menjadi titik kariernya, Kessack bermain di Canon Younde, Portimonense, Rio Ave, dan klub di Singapura.

Tentu saja saya harus menyebut Lee Andrew Hendrie dan Jose Horacio Basualdo. Dua nama besar ini pernah menambat hatinya tuk sepak bola Indonesia; Liga Primer Indonesia. Lee Hendrie, sebelum bermain di Bandung Raya, peserta breakaway league pada 2011, adalah pemain Stoke City, Sheffield United, Leicerter City, Derby County, Bradford City. Sepulang dari Indonesia, Hendrie – dia lahir di Birmingham, 18 Mei 1977 – masih bermain untuk, di antaranya, Deventry Town, Kidderminster Harriers, Chasetown, dan Basford United.

José Horacio Basualdo – lahir di Campana, Buenos Aires, 20 Juni 1963 – adalah bintang Argentina di Piala Dunia 1990 dan 1994. Dia kami datangkan ke Indonesia tuk menukangi Real Mataram, klub peserta Liga Primer Indonesia, yang saya bidani selain Bali de Vata dan Batavia Union. Basualdo yang mendapat bayaran Rp 5 miliar tuk satu tahun di Real Mataram, klub yang bermarkas di Yogyakarta, pernah bermain di VfB Stuttgart, Boca Juniors, Deportivo Espanol, dan menjadi pelatih di banyak klub di Argentina.

Michael Essien
Michael Essien legenda Chelsea dan Yon Moeis, wartawan yang melegenda.

“THE BISON”

Ngobrol bersama orang-orang bola, tentu saja, sangat mengasyikkan, tapi bisa juga menyebalkan. Michael Essien, misalnya, dia segera menyebut Jerman sebagai juara pada perhelatan Piala Dunia 2018 yang sedang berlangsung di Rusia. Padahal, saya ingin Michael Essien menyebut Brasil atau Inggris. “Jerman pasti juara,” kata Essien, mantan pemain Persib Bandung.

Michael Kojo Essien –  lahir di Accra, Ghana, 3 Desember 1982 – adalah gelandang yang mengandalkan fisik. “The Bison”, julukan Michael Essien, pandai benar memainkan energi dan stamina tuk mendukung permainan bertahan dan menyerang.

Pada tahun 2000, Essien mengadu peruntungan ke Perancis dengan bergabung di klub Bastia, sebelum bergabung di Olympique Lyonnais pada 2003. Setelah memperoleh kewarganegaraan Perancis, pada 2005, ia bermain untuk Chelsea dan ikut meraih gelar juara Liga Inggris pada 2006 dan 2010.

Sebelum jauh pergi keluar dari Afrika, Essien adalah pemain nasional Ghana tuk Piala Dunia U-17 pada 1999 dan 2001. Pada 2002 dia memulai debut tim senior di tiga kali Piala Afrika dan Piala Dunia 2006.

Mario Kempes, Roger Milla, Lee Hendrie, Maboang Kessack, Jose Basualdo, dan Michael Essien, adalah pemain-pemain dunia yang pernah singgah di kompetisi Indonesia. Mereka datang, pergi, dan, tak akan pernah kembali, kecuali Essien. “Desember nanti saya dan teman-teman ingin ke Bali, dan sekali main bola di sini,” kata Essien.

Penulis adalah wartawan olahraga senior

YON MOEIS (https://www.facebook.com/yon.moeis)
@yonmoeis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *