video assistant referee

Aturan Video Assistant Referee, 14 kamera replay untuk 20 detik

Headline News Piala Dunia 2018

Kolom Mbah Coco

Sadio Mane striker asal Senegal dijatuhkan Davinson Sanchez, libero Kolombia, di kotak penalti Kolombia, menit 19, dalam partai terakhir fase grup H. Wasit Milorad Mazic asal Serbia, meminta kedua tim, untuk berhenti sejenak, untuk nonton VAR (video assistant referee). Maka, hasilnya tertulis “no penalty”.

Menurut mBah Coco, kalau itu dinyatakan tidak penalti. Artinya, striker Senegal yang bermain di Liverpool ini, dianggap melakukan penipuan. Bisa diving dan bisa pura-pura jatuh. Dengan demikian, Sadio Mane harusnya dikenakan kartu kuning, karena dianggap pura-pura jatuh. Begitu kan biasanya?

Ada kasus lagi, saat partai Nigeria vs Argentina, yang berlangsung di stadion Krestovsky, Saint Petersburg, 26 Juni, yang disaksikan 64,468 penonton, juga dilakukan VAR oleh wasit Cüneyt Çakır asal Turki. Saat, Marcos Rojo yang tidak begitu ketat oleh striker Nigeria, Odion Ighalo (nomor punggung 9), dalam posisi handsball, ketika menghalau bola, dengan loncat, namun mengenai tangannya.

Video Assistant Referee
Wasit melihat rekaman Video Asisstant Referee dalam pertandingan Prancis vs Australia.

Saat wasit diminta menonton Video Assistant Referee, maka Cüneyt Çakır memutuskan, bahwa Rojo dinilai tidak senagaja. Dalam posisi melompat, mata Rojo termejam. Artinya, bek tengah Manchester United ini, memang tidak mengaja menghalau bola dengan tangannya pada menit ke 76 tersebut. Di mana saat itu, posisinya masih 1 – 1. Dan, Rojolah yang menjadi pahlawan Argentina, saat menjebol gawang Nigeria yang dikawal Francis Uzoho.

Ada beberapa kasus yang sama, seperti Rojo, saat berebut bola di udara, namun sang pemain dalam posisi termejam matanya, dan mengenai tangannya. Namun, oleh VAR dan wasit diputuskan penalti.

Pertanyaannya, apakah wasit bisa memberi contoh, bahwa kalau melompat itu, matanya tidak boleh terpejam, dan tangannya seperti diikat, tidak boleh bergerak? Menurut mBah Coco, kebiasaan pemain, jika duel di udara, rata-rata saat bola mendekat, sering merem matanya. Karena takut berbenturan, dan juga kedua tangannya pasti ikut terangkat. Mana mungkin, saat duel di udara, si pemain dalam posisi kedua tangannya dibawah.

Hasil Video Assistant Referee

Bicara gol yang dicetak alam posisi off side, atau dalam posisi si pencerak gol dianggap salah. Maka, jika ada protes, dan sang wasit memutuskan untuk melihat VAR. Suasana emosi dan kegembiraan pendukung suporternya, seperti dimatikan sejenak. Untuk menunggu hasil Video Assistant Refereesekitar 20 sampai 45 detik. Dan, jika diputuskan gol, bagaimana dengan selebrasi dan emosi kegembiraan bisa diulang?

Bagi mBah Coco, kegembiraan serta emosi selebrasi ditunda, untuk menunggu hasil wasit melihat Video Assistant Referee, sama saja wasit sudah “membunuh selebrasi dan emosi” suporter yang jumlahnya ribuan ini. Ibarat, ada pasangan sedang “making love”, namun diminta menunggu sebentar. Dan, satu menit kemudian, boleh nge-crettttt. Mana enaknya, coy !!!

Ada yang digugat lagi oleh mBah Coco.

Siapa yang paling berkuasa untuk memutuskan final setiap pelanggaran? Wasit atau VAR? Bagaimana legitimasi wasit saat ini, apakah dipercaya atau tidak? Kalau saja ada pelanggaran di kotak penalti, dan wasit ada di depat pelanggaran. Kemudian, diputuskan sebagai pelanggaran dan menunjuk titik putih. Namun, tenyata semua pemain protes, dan meminta wasit untuk melihat VAR.

Di mana harga diri wasit? Kalau, seandainya wasit memutuskan untuk melihat replay VAR, dan ternyata menurut VAR, tidak ada pelanggaran. Otomatis, keputuskan hadiah penalti batal. Apakah wasit tidak lagi dianggap berkuasa 100% lagi. Belum lagi, apakah wasit di lapangan wasib 100% bisa disuruh berhentikan pertandingan oleh VAR?

Mengapa pembicaraan wasit dan petugas VAR (ada empat orang), tidak diperdengarkan ke pirswasn televisi di rumah? Karena di olah raga Rugbi, pembicaraan wasit, asisten wasit dan VAR – bisa didengar ke rumah-rumah. Mereka bicara apa, dan memutuskan alasan apa, serta berdebat soal apa, bisa di dengar oleh pirswasn tivi di rumah-rumah. Ini baru fairplay.

Aturan FIFA

Saat mBah Coco melihat siaran langsung di BBC, yang siarkan langsung FIFA World Cup 2018, dengan host-nya mantan pemain nasional Inggris 1986, sebagai topskor Piala Dunia, Gary Lineker – menggugat banyak keputusan VAR. Salah satu pertanyaannya, bagaimana mungkin 14 kamera yang diberi tugas untuk mengambil gambar replay, dari 32 kamera, dalam setiap siaran langsung di Rusia, bisa mencari gambar yang benar-benar ada pelanggaran atau tidak, dalam waktu 20 detik?

Video Assistant Referee
Pierluigi Collina, mantan wasit asal Italia, menjadi bagian dari pengembangan VAR.

Aturan FIFA ini benar-benar menyebalkan. Dan, mudah-mudahan ada perbaikan yang sangat penting, setelah World Cup. Karena, menurut Gary Lineker, jika aturan VAR dilaksanakan di kompetisi Liga Inggris, Spanyol dan liga elit dunia. Maka, salah satu yang dibunuh adalah emosi penonton, dan emosi pemain di stop mendadak, agar jangan selebrasi dulu. Prittttttttt, Tunggu hasil VAR. Busyet daghhhhh

Okey, sekarang silahkan selebrasi.
Ini benar-benar membunuh sepak bola sebagai sebuah panggung theater kehidupan, yang natural sesuai emosi setiap pemain sepak bola, dan naturalnya emosi ribuan penonton. Pelan-pelan harus terbunuh dan dihentikan seman-mena oleh teknologi.

Ditulis oleh Cocomeo, wartawan dan pengamat sepak bola

(https://www.facebook.com/cocomeo)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *